Showing posts with label Motivation. Show all posts
Showing posts with label Motivation. Show all posts

December 31, 2011

Happy New Year 2012


This new year is not important for me. Not for me celebrate.
But most important is how me could be better in the new year.

HAPPY NEW YEAR 2012

October 26, 2011

Just a tale and a little motivation

Menurut sebuah fabel dari India kuno, seekor tikus terus-menerus merasa sedih karena takut pada kucing. Dia menemui tukang sihir. "Aku minta berubah jadi kucing," katanya.
        
"Kenapa?" 
        
"Hidupku selalu dibayang-bayangi ketakutan dimakan kucing. Lebih baik aku menjadi kucing daripada tikus."
        
Tukang sihir itu merasa kasihan pada si tikus. Ia melambaikan tongkatnya. Wuzzzz. Si tikus pun berubah menjadi seekor kucing. Dengan senang hati, kucing jelmaan tikus itu pun berlarian kesana kemari tanpa rasa takut. Beberapa hari kemudian, kucing itu menemui penyihir.
        

"Aku ingin diubah menjadi seekor anjing."
         
"Kenapa?"
         
"Sebagai kucing, aku selalu dibayang-bayangi rasa takut terhadap anjing. Di mana aku berada, anjing-anjing itu selalu mengejarku. Oh penyihir, ubahlah aku jadi seekor anjing."
         
Sekali lagi si penyihir itu merasa kasihan. Maka ia melambaikan tongkatnya. Wuzzzz. Si kucing dalam sekejap menjadi seekor anjing. Anjing jelmaan kucing itu pun berlari kesana kemari tanpa rasa takut. Kemudian menghilang di semak rerimbunan semak.
         
Hanya 3 hari ia sanggup menjalani peran sebagai anjing. Pada hari ke-4 ia menjumpai si penyihir sambil mengeluh."Aku tak mau jadi anjing, aku tak mau jadi anjing," katanya berulang-berulang. "Wahai penyihir yang baik, tolonglah aku. Aku tak mau menjadi anjing."
         
"Mengapa?" Tanya si penyihir.
         
"Sebagai anjing, aku selalu takut pada manusia. Aku harus selalu menngabdi dan setia pada manusia, walaupun mereka sering memukulku."
         
"Lantas, apa maumu?"
         
"Wahai penyihir, jadikanlah aku seorang manusia."
         
Si penyihir pun melambaikan tongkatnya untuk kesekian kalinya. Wuzzzz. Dan anjing itupun menjelma menjadi seorang putri yang cantik jelita. Sang putri tersenyum bangga. Tanpa mengucapkan terimakasih, dia berlalu dan menjalani kehidupannya sebagai seorang manusia. Namun seminggu kemudian, sambil menangis sang putri kembali menjumpai sang penyihir.
         
"Ada apa Tuan Putri?" Tanya sang penyihir.
         
"Ternyata tidak enak menjadi seorang manusia. Aku harus selalu memakai otakku. Aku tidak boleh menggigiti segala sesuatu yang aku mau, dan aku selalu takut pada tikus-tikus yang setiap malam masuk ke kamarku. 
         
Si penyihir itu berpikir sejenak. Lalu ia melambaikan tongkatnya sekali lagi. Wuzzzz. Sang putri pun menjelma menjadi seekor tikus lagi. Tukang sihir berkata, "Apapun yang kulakukan tak bisa membantumu, karena kau berhati tikus."


http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSTUbWhv1MKrdLjXUs762ZghEbsqkRnK0GvB8GRz2nOruzEpaH-Fw
Tak masalah Anda dilahirkan sebagai siapa, tidak masalah apa latar belakang Anda, atau pendidikan Anda, yang paling penting adalah berikan yang Anda mampu. Jangan meminta lebih, jika Anda memang tidak mampu menyelesaikan perkara-perkara yang lebih besar. Setiap peran, setiap posisi memiliki kesulitannya masing-masing. Dan setiap kesulitan yang kita hadapi, tidak akan pernah melebihi kemampuan kita. Jika Anda tidak bisa menyelesaikan perkara-perkara kecil, jangan meminta tanggung jawab atau peran yang lebih besar, karena Anda tidak akan mampu bertahan.Just be grateful!

October 04, 2011

To Young Generation

Ada cerita hari ini. Cukup untuk menambah semangat gua hari ini. Semoga kalian juga blogwalker. Yuk mari, generasi muda rapatkan hati, kuatkan diri dan jangan ragu tuk mimpi.


Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung. “Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?” sang Guru bertanya. 
         
“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,”SmileyCentral.com  jawab sang murid muda.
Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu. ” Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta. 
 
“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu, ” kata Sang Guru. “Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.” Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin. “Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru. “Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis. Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan. 
         
“Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.” Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan sang guru, begitu pikirnya. 
         
“Sekarang, coba kau minum air danau itu, ” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau. Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?” “Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya.

Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.
         
“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?” tanya sang guru. “Tidak sama sekali" kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas. 
         
“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Tuhan, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah.

Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian." Si murid terdiam, mendengarkan. “Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya ‘qalbu’(hati) yang menampungnya.

Jadi, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.” Masalah hanyalah seperti hujan, yang terkadang datang dan pergi. Tapi dengannya alam menjadi lebih cerah dan udara lebih segar. Begitu juga masalah, dia akan menjadikan diri kita lebih segar.

Masalah bukanlah untuk di takuti atau dihindari, tapi masalah adalah untuk diselesaikan.

September 22, 2011

Yes, I'm still with you

         
         Kesetiaan tidak dapat diukur dalam situasi biasa atau ketika semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Kesetiaan diukur dalam situasi terburuk. Jika dalam kondisi itu masih bertahan, maka itulah kesetiaan yang sebenarnya. Dan kesetiaan sejati itu datang dari hati yang tulus tanpa pamrih. 
          Banyak orang yang merasa sudah memberikan yang terbaik untuk seseorang yang disayanginya, untuk sahabat-sahabatnya, untuk pekerjaannya, namun mereka lupa bahwa segala yang mereka berikan itu dalam kondisi ketika segalanya berjalan dengan baik.
          Ingatlah, bahwa penghargaan sejati akan diberikan ketika tetap bertahan dalam situasi terburuk.
          "Be a strong guys"
          "Yes I'm strong"



remember NR

September 11, 2011

Dari Necy Tanudibyo

Aturan main hidup sebenarnya sangat sederhana. Tidak perlu mengkalkulasikan berapa sumber daya yang dimiliki, berapa produktifitas yang bisa dihasilkan, dan berapa profit yang bisa diperoleh, kita hanya cukup memberikan yang terbaik yang kita bisa. Maka kehidupan akan sangat bermurah hati bagi mereka yang selalu memberikan yang terbaik. 
         
Tidak peduli latar belakang pendidikan kita, tidak peduli kondisi ekonomi kita, tidak peduli berapa usia kita atau darimana kita berasal, kebahagiaan dan keberuntungan akan selalu bersama mereka yang mencintai hidup dan memberikan yang terbaik yang mereka mampu untuk kehidupan.



Untuk Penerus Indonesia



September 08, 2011

Cerita dari Necy tadi siang

Pada suatu hari seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah, Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur.  Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api.
         
Setelah air di panci-panci tersebut mendidih, ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur dipanci kedua, dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api. Ia menysihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.
         
Lalu ia bertanya kepada anaknya,"Apa yang kau lihat nak?"

"Wortel, telur, kopi" jawab si anak. Ayahny mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras. Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si anak bertanya,"Apa arti semua ini ayah?" Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, perebusan, tetapi masing--masing menunjukkan reaksi yang berbeda.
        
Wortel sebelum direbus kuat, keras, dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak.
        
Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras.
         
Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi mengubah air tersebut. "Kamu termasuk yang mana?" tanya ayahnya. "Ketika kesulitan mendatangimu bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur, atau kopi?"

          
Dalam menghadapi kesulitan hidup, kita dihadapkan pada pilihan untuk menjadi wortel, telur, atau kopi. Jika Anda adalah wortel yang awalnya terlihat keras, ketika menghadapi penderitaan, Anda akan menjadi lunak dan kehilangan kekuatan.

Jika Anda adalah telur yang awalnya memiliki hati yang lembut, namun ketika menghadapi penderitaan, dari luar masih tampak sama, tapi di dalam hatinya mulai mengeras.

Jika Anda adalah kopi, ketika menghadapi permasalahan Anda justru akan menjadi semakin matang, semakin baik, dan membuat keadaan di sekitar Anda juga membaik.

September 07, 2011

Kesetiaan

Kesetiaan tidak dapat diukur dalam situasi biasa atau ketika semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Kesetiaan diukur dalam situasi terburuk. Jika dalam kondisi itu masih bertahan, maka itulah kesetiaan yang sebenarnya. Dan kesetiaan sejati itu datang dari hati yang tulus tanpa pamrih. 
         
Banyak orang yang merasa sudah memberikan yang terbaik untuk seseorang yang disayanginya, untuk sahabat-sahabatnya, untuk pekerjaannya, namun mereka lupa bahwa segala yang mereka berikan itu dalam kondisi ketika segalanya berjalan dengan baik.
         
Ingatlah, bahwa penghargaan sejati akan diberikan ketika tetap bertahan dalam situasi terburuk.

          "Be a strong guys"
          "Yes I'm strong"

September 05, 2011

KISAH TEMPAYAN RETAK

Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan yang retak hanya dapat membawa air setengah penuh. Begitu terus setiap harinya.
         
Selama 2 tahun, tempayan retak merasa malu dengan dirinya sendiri karena tidak dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Akhirnya, pada suatu hari si tempayan retak berkata pada tukang air.
         
"Saya sungguh malu pada diri saya sendiri dan maafkan aku."
         
"Kenapa? kenapa kau merasa malu?" tanya si tukang air. "Karena selama dua tahun ini, saya hanya mampu membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa karena adanya retakan pada tubuh saya, dan membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya membuatmu rugi." kata tempayan retak itu.
         
Sambil tersenyum, si tukang air itu berkata kepada tempayan retak.
         
 "Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kau memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan." Benar, ketika mereka naik ke bukit keesokan harinya, si tempayan retak memperhatikan jalan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan itu membuatnya sedikit terhibur. 
         
Namun, di akhir perjalanan ketika air yang dibawa si tempayan retak tinggal separuh, ia kembali meminta maaf kepada tukang air. Si tukang air berkata kepada tempayan retak itu, "Apakah kau memperhatikan bahwa bunga-bunga di sepanjang jalan itu hanya tumbuh di sisimu, dan tidak ada di sisi tempayan yang tidak retak? Karena aku selalu menyadari akan cacatmu, maka aku manfaatkan dengan menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu. Dan setiap hari, jika kita berjalan pulang dari mata air, kau mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu, majikan kita tak akan bisa menghias rumahnya seindah sekarang."



Kita semua adalah tempayan yang retak. Artinya bahwa kita semua tanpa terkecuali, memiliki kekurangan. Sering kita menjaadi tidak percaya diri karena kekurangan kita. Padahal tidak ada gunanya membandingan diri kita dengan orang lain. Karena orang lainpun memiliki kekurangan-kekurangannya sendiri.
          Terima diri apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada. Karena dalam kekurangan-kekurangan yang ada, terletak kekuatan yang sebenernya.

DUA KEMALANGAN DALAM HIDUP KITA

Seorang pengunjung rumah sakit jiwa melihat seorang pasien sedang menggoyangkan kursi ke depan dan belakang, sambil terus-menerus mengucap pelan, "Lulu....Lulu..."
       
Merasa kasihan bercampur heran, ia bertanya pada dokter yang mendampinginya, "Apa yang menyebabkan dia jadi seperti ini?"
       
"Penyebabnya adalah Lulu. Cintanya ditolak perempuan bernama Lulu," jawab dokter yang mendampinginya.
       
Mereka lalu meneruskan perjalanan menyusuri koridor. Sampailah mereka pada blok berikutnya. Di sana, ada sebuah kamar yang dindingnya diberi lapisan empuk. Penghuninya terus menerus membenturkan kepalanya ke dinding sambil merintih, "Lulu...Lulu.."
       
"Apakah Lulu juga yang membuatnya jadi seperti ini?" tanya pengunjung itu lagi.
"Ya", kata dokter. "Dialah orang yang akhirnya dipilih Lulu sebagai suaminya."

Terkadang kita merasa kita adalah orang paling sial di dunia. Kita sangat menginginkan sesuatu dalam hidup, tapi justru orang lain yang mendapatkannya. 


Namun kita sering lupa bahwa meski kita mendapatkan apa yang kita inginkan, bukan berarti kita bebas dari masalah. Karena masalah selalu ada di sepanjang jalan kehidupan. Belum tentu pula kita akan bahagia setelah kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Bahkan orang yang telah mendapatkan semua yang ia inginkan bisa sama menderitanya dengan orang yang tidak mendapatkan apapun. 


Karena memang tolok ukur kebahagiaan bukan pada apa yang telah atau belum kita dapatkan, tapi bagaimana kita menghadapi segala hal dalam hidup ini dengan positif.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...